Selasa, 11 Agustus 2026

AL-ASY'ARIYAH & AL-MATURIDIYAH AMANAH UMAT DAN BENTENG AHLUS SUNNAH

 

AL-ASY'ARIYAH &  AL-MATURIDIYAH

AMANAH UMAT DAN BENTENG AHLUS SUNNAH

 

Bukti nyata  Ash'ariyah dan Maturidiyah adalah para penjaga akidah yang murni. Mereka telah membangun benteng yang kokoh dari dalil akal yang teruji (ma'qul) dan teks wahyu (manqul), yang melindungi kesucian Sunnah dari penyelewengan orang-orang yang berlebihan (al-ghalin) dan klaim palsu para pembatal kebenaran (al-mubtilin).

 

·      Pembaharuan Bukan  Ajaran Bid'ah

  (Ash'ariyah sebagai Kebutuhan Sejarah dan Penolong Atsar)

Penyelidikan ilmiah menegaskan tanpa keraguan bahwa peran Imam Abu al-Hasan al-Ash'ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi bukanlah menciptakan mazhab baru, melainkan untuk mempertahankan akidah Salaf dan memperbaiki fondasinya yang mulai terkikis akibat fitnah ilmu kalam. Imam al-Ash'ari—sebagaimana disaksikan oleh al-Qabisi dan al-Mayurqi—tidak membawa bid'ah, melainkan memperkuat mazhab Ahlul Hadits dengan argumen dan penjelasan. Hingga akhirnya, bernisbah kepadanya sama seperti bernisbah kepada mazhab Malik: sebagai bentuk pengikutan (ittiba'), bukan pembuat bid'ah (ibtida'). Al-Ash'ari adalah "pedang terhunus" terhadap Mu'tazilah dan Rafidhah, yang berusaha menjelaskan sunnah-sunnah dan teguh di atasnya. Ketika beliau wafat, Ahlus Sunnah menangisinya sementara ahli bid'ah merasa lega; karena beliau telah mematahkan kekuatan mereka dengan argumen tajam yang bersumber dari prinsip para Sahabat dan Tabi'in.

 

· Fatwa-fatwa Besar dan Konsensus para Imam Panutan umat 

Sejarah mencatat fatwa-fatwa ilmiah besar yang ditandatangani oleh para ulama terkemuka dan huffazh umat, yang membuktikan bahwa Ash'ariyah adalah tokoh-tokoh Ahlus Sunnah dan pembela syariat. Dari al-Qushayri hingga ad-Damaghani al-Hanafi, dan dari ash-Shirazi ash-Syafi'i hingga Ibn 'Aqil al-Hanbali, sepakat bahwa mencela Ash'ariyah sama saja dengan mencela keseluruhan Ahlus Sunnah. Konsensus lintas empat mazhab ini menegaskan bahwa Ash'ariyah dan Maturidiyah adalah mayoritas terbesar (as-sawad al-a'zham) umat Islam. Mazhab Hanafi—kecuali sebagian kecil—adalah Maturidiyah berakidah Ash'ariyah; sedangkan mazhab Maliki, Syafi'i, dan para ulama Hanbali adalah prajurit dari manhaj ini. Hal ini membuat Akidah at-Thahawiyah—yang merupakan inti pemikiran fiqih Abu Hanifah—bertemu dengan Ash'ariyah dalam prinsip-prinsip kebenaran, jika bukan karena kejanggalan kelompok nabitah (pemikiran sekte baru) yang mencoba merobek tenunan yang bersatu ini. 

·      MADRASAH PARA PENGHAFAL HADIS (AL-HUFFAZH) MENGHADAPI UJIAN TASYBIH DAN TAJSIM 

Para huffazh besar seperti Imam al-Bayhaqi dan Imam Ibn 'Asakir menentang berbagai upaya untuk merusak manhaj ini, terutama yang dipimpin oleh Wazir al-Kunduri al-Rafidhi. Ini menegaskan bahwa celaan terhadap Ash'ariyah secara historis hanya keluar dari ahli bid'ah Rafidhah atau penganut  tajsim (antropomorfisme golongan mujassimah ) yang sesat. Al-Bayhaqi membuktikan dalam risalah agungnya bahwa Al-Ash'ari membela apa yang dipegang oleh at-Thawri, al-Awza'i, Malik, asy-Syafi'i, Ahmad bin Hanbal, al-Bukhari, dan Muslim, serta bahwa Allah mengutusnya pada penghujung seratus tahun untuk memperbarui agama bagi umat ini. Manhaj inilah yang bersih dari keruhan syubhat, dengan menempuh jalan tafwidh (menyerahkan makna kepada Allah) dan diam terhadap apa yang tidak kita ketahui, seraya membendung syubhat Mu'tazilah dengan ilmu kalam yang wajib demi membela agama dan menolak para pembatal kebenaran. 

·      Kelengkapan Rujukan dan Kesucian Sanad dari Kelompok Tumbuhan Liar (Nawabit) 

            Penyelidikan ilmiah bermuara pada pandangan Izzuddin bin 'Abdussalam, as-Subki, dan al-Kawthari bahwa mayoritas ulama empat mazhab beragama kepada Allah dengan akidah Al-Ash'ari. Pemisahan antara Salafiyah dan Ash'ariyah adalah pemisahan yang dibuat-buat; Salafiyah adalah manhajnya, sedangkan Ash'ariyah adalah argumennya (al-hujjah). Kelompok nabitah zaman ini yang mencela manhaj ini hanyalah mengikuti jejak Rafidhah dan penganut tajsim. Sementara itu, mazhab Maturidiyah tetap menjadi pelengkap yang selaras dengan Ash'ariyah, di mana keduanya membentuk identitas umat di belahan timur dan barat bumi. Bantahan para ulama terhadap pendapat-pendapat menyimpang—seperti Ibn Taimiyah dan lainnya—tidak lain adalah untuk menjaga benteng Sunnah yang kokoh ini, agar umat tetap bersatu di atas akidah pertengahan (wasathiyah) yang memadukan keagungan penyucian Allah (tanzih) dan keindahan pengikutan (ittiba'), jauh dari keburukan bid'ah dan penyimpangan kelompok Hashawiyah.

 

Kesimpulan

Penelusuran sejarah terhadap kesaksian para imam Islam memastikan bahwa manhaj Ash'ariyah dan Maturidiyah adalah rujukan pemersatu yang meleburkan mazhab-mazhab fiqih ke dalam satu wadah akidah. Hal ini mewujudkan pemeliharaan agama dari noda tasybih (penyerupaan) dan ta'thil (penolakan sifat). Bernisbah kepada keduanya tetap menjadi bentuk nisbah kepada manhaj pembelaan Sunnah dengan argumen dan bukti ilmiah, sehingga mencela keduanya berarti mencela sejarah ilmiah umat dan mayoritas ahli fiqihnya yang keilmuan dan amalnya telah membentang ke seluruh penjuru dunia.

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ilmu Tauhid dan Ilmu Kalam: Saling Melengkapi atau Saling Tumpang Tindih

  Ilmu Tauhid dan Ilmu Kalam: Saling Melengkapi atau Saling Tumpang Tindih?                  Di antara keistimewaan terpenting umat Islam ad...