Selasa, 18 Agustus 2026

PEMBAGIAN 20 SIFAT WAJIB ALLAH (NAFSIYAH, SALBIYAH, MA'ANI, DAN MA'NAWIYAH)MENURUT ASY'ARIYAHBESERTA KONEKSITAS SIFAT MAANINYA

 PEMBAGIAN 20 SIFAT WAJIB ALLAH  (NAFSIYAH, SALBIYAH, MA'ANI, DAN MA'NAWIYAH)MENURUT ASY'ARIYAHBESERTA KONEKSITAS  SIFAT MAANINYA

 

Dalam tradisi  Asy'ariyah sebagaimana dipaparkan oleh Syekh Ibrahim al-Laqani dalam matan Jauharat ut-Tauhid (beserta syarah Ithaf al-Murid karya Syekh al-Bajuri) dan Syekh Muhammad bin Yusuf as-Sanusi dalam 'Aqidat us-Sanusiyah (beserta syarahnya Umm ul-Barahin), setiap mukalaf wajib mengetahui sifat-sifat yang wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah SWT.

 

 1. Pembagian Sifat Wajib bagi Allah

Sifat wajib bagi Allah yang umum dipelajari berjumlah 20 sifat, yang terbagi ke dalam empat kategori (termasuk Salbiyah, namun fokus utama di sini pada Nafsiyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyah):

 

·         Sifat Nafsiyah (صفة نفسية): Sifat yang menetapkan adanya Zat Allah tanpa ada makna tambahan di luar Zat itu sendiri.

Sifatnya: Wujud (Ada).

·         Sifat Ma'ani (صفات المعاني) :  Sifat yang berdiri pada Zat Allah, bersifat abstrak/konkret (wujudiyyah), yang memunculkan hukum/keterkaitan tertentu.

Ada 7 sifat:

1.      Qudrah (Kuasa)

2.      Iradah (Kehendak)

3.      ‘Ilm (Pengetahuan)

4.      Hayat (Hidup)

5.      Sama‘ (Mendengar)

6.      Bashar (Melihat)

7.      Kalam (Berfirman)

·         Sifat Ma'nawiyah (صفات معنوية): Sifat yang merupakan konsekuensi (mulazamah) dari berdirinya Sifat Ma'ani pada Zat Allah.

Sifat ini tidak berdiri sendiri, melainkan kondisi (hal) yang melekat karena adanya sifat Ma'ani.

Ada 7 sifat:

1.      Kaunuhu Qadiran (Keadaan-Nya yang Maha Kuasa)

2.      Kaunuhu Muridan (Keadaan-Nya yang Maha Berkehendak)

3.      Kaunuhu 'Aliman (Keadaan-Nya yang Maha Mengetahui)

4.      Kaunuhu Hayyan  (Keadaan-Nya yang Maha Hidup)

5.      Kaunuhu Sami'an  (Keadaan-Nya yang Maha Mendengar)

6.      Kaunuhu Bashiran  (Keadaan-Nya yang Maha Melihat)

7.      Kaunuhu Mutakalliman (Keadaan-Nya yang Maha Berfirman)


2. Ta'alluq Sifat Ma'ani (تعلّق صفات المعاني)

 

Ta'alluq  adalah hubungan atau keterkaitan sifat Ma'ani dengan objeknya (muta'allaq). Menurut Imam as-Sanusi dalam Umm ul-Barahin, hukum akal terbagi tiga: Wajib, Mustahil,dan Jaiz. Pembagian ta'alluq bertumpu pada ketiga hukum akal ini:

 

Sifat Ma'ani

Jenis Ta'alluq

Objek Keterkaitan (Muta'allaq)

Fungsi/Penjelasan

 

 

 

 

Qudrah

Ta'alluq Ta'tsir (Pengaruh)

Hal Jaiz (Mungkin terjadi)

Mengadakan (Ijad) atau meniadakan (I'dam) hal yang mungkin.

Iradah

Ta'alluq Takhshish (Penentuan)

Hal Jaiz (Mungkin terjadi)

Menentukan salah satu dari dua hal yang mungkin (misal: menentukan seseorang tinggi/pendek, lahir/mati).

‘Ilm

Ta'alluq Inkisyaf (Penyingkapan)

Hal Wajib, Mustahil, dan Jaiz

Menyingkap segala sesuatu sebagaimana mestinya tanpa ada yang tersembunyi.

Kalam

Ta'alluq Dalalah (Petunjuk)

Hal Wajib, Mustahil, dan Jaiz

Menunjukkan segala hal yang wajib, mustahil, dan jaiz tanpa berupa suara/huruf.

Sama‘ & Bashar

Ta'alluq Idrak (Penyingkapan Khusus)

Hal Wajib dan Jaiz (semua yang wujud)

Mengungkap segala yang ada (al-Mawjudat), baik Zat Allah maupun ciptaan-Nya.

Hayat

Tidak Memiliki Ta'alluq

-

Hayat adalah syarat sah bagi berdirinya sifat Ma'ani lainnya pada Zat Allah, sehingga tidak membutuhkan objek luar.

 

 

 

Catatan Matan Jauharat ut-Tauhid:

Imam al-Laqani menegaskan bahwa Qudrah dan Iradah tidak bertaut (ta'alluq) pada hal yang Wajib dan Mustahil. Jika Qudrah bertaut pada hal Wajib (misal: membuat Zat Allah ada), maka itu Tahshil ul-Hasil (mewujudkan yang sudah ada). Jika bertaut pada hal Mustahil (misal: menciptakan tuhan lain), maka itu membalikkan hakikat hukum akal.

 

 3. Sifat Mustahil dan Jaiz bagi Allah

·         Sifat Mustahil bagi Allah: Segala sifat yang merupakan kebalikan (dhidd) dari sifat-sifat wajib. Berjumlah 20 sifat, seperti ‘Adam (Tiada), ‘Ajz (Lemah), Jahl  (Bodo/Tidak Tahu), dan  Mawt  (Mati).

·         Sifat Jaiz bagi Allah:

Sebagaimana ditegaskan dalam Jauharat ut-Tauhid dan Umm ul-Barahin, sifat Jaiz bagi Allah adalah satu:

فِعْلُ كُلِّ مُمْكِنٍ أَوْ تَرْكُهُ

(Melakukan segala hal yang mungkin [mumkin/jaiz] atau meninggalkannya).

Allah memiliki kebebasan mutlak untuk menciptakan sesuatu (seperti memberi rezeki, menciptakan alam) atau tidak menciptakannya, tanpa ada kewajiban atas Allah dan tanpa ada paksaan dari pihak mana pun.

 

 

o    Pembagian Ta'alluq Qudrah dan Iradah menjadi Shaluhi Qadim, Tanjizi Qadim, dan Tanjizi Hadits menurut syarah Ummul Barahin.

 

Dalam syarah Umm ul-Barahin (serta syarah-syarah Aqidat us-Sanusiyah lainnya seperti karya Imam al-Bajuri dan Imam ad-Dusuqi), ta'alluq didefinisikan sebagai tuntutan sifat terhadap makna tambahan di luar zat-Nya (thalab as-sifah amran za'idan 'ala al-qiyam bi al-mahall).

 

Untuk sifat Qudrah  (kuasa untuk mengadakan/meniadakan) dan Iradah  (kehendak untuk menentukan opsi mumkinat), para ulama mutakakhirin membagi keterkaitannya ke dalam beberapa tahapan dan sifat hubungan: Shaluhi (kelayakan/potensi) dan Tanjizi (realisasi/pelaksanaan), yang dibedakan menurut sifat masa/azali (Qadim) atau baru (Hadits).

 

1. Pembagian Ta'alluq Qudrah :

    Sifat Qudrah memiliki 3 jenis ta'alluq :

o   Ta'alluq Shaluhi Qadim (تعلّق صلوحي قديم):

Pengertian: Kelayakan sifat Qudrah sejak zaman azali (tanpa permulaan) untuk menciptakan atau meniadakan segala sesuatu yang mumkin (mungkin ada/tiada) pada waktu yang nantinya dikehendaki Allah.

             Contoh: Sejak azali, Qudrah Allah sudah layak dan mampu untuk menciptakan diri Anda di abad ke-21.

o   Ta mealluq Tanjizi Hadits (تعلّق تنجيزي حادث):

Pengertian: Pelaksanaan atau realisasi penciptaan/peniadaaan secara aktual pada saat hal  tersebut benar-benar terjadi di alam nyata (berada pada waktu yang telah ditentukan).

              Contoh:  Pada momen Anda dilahirkan ke dunia, Qudrah Allah bertaut secara Tanjizi Hadits untuk memunculkan Anda dari tiada menjadi ada.

o   Ta'alluq Qabdhah (تعلّق قبضة):

Pengertian: Keterkaitan Qudrah terhadap hal-hal yang mumkin sebelum ada atau setelah ditiadakan, berada dalam genggaman kekuasaan Allah (apakah akan diwujudkan, ditahan, atau dimusnahkan).

Catatan: Sebagian ulama menyebut ini sebagai bentuk Shaluhi Hadits atau keberadaan mumkinat dalam kedaulatan kekuasaan Allah.

 

 

 

Penting: Sifat Qudrah tidak memiliki Ta'alluq Tanjizi Qadim. Jika pelaksanaan (tanjizi) terjadi secara azali (qadim), maka makhluk/alam semesta ini akan berstatus qadim (ada tanpa permulaan), dan hal tersebut mustahil bagi akal.

 

 

 

2. Pembagian Ta'alluq Iradah

 

Sifat Iradah memiliki  3 jenis ta'alluq yang sedikit berbeda dari Qudrah:

 

1.      Ta'alluq Shaluhi Qadim (تعلّق صلوحي قديم):

Pengertian: Kelayakan sifat Iradah sejak zaman azali untuk menentukan salah satu dari dua hal yang mungkin (mumkinat) bagi suatu objek (misal: menentukan tinggi atau pendek, ada di masa lalu atau masa depan).

 

 

2.      Ta'alluq Tanjizi Qadim (تعلّق تنجيزي قديم):

Pengertian: Penentuan keputusan secara mutlak dan final sejak zaman azali mengenai keadaan spesifik suatu objek mumkin beserta waktu terjadinya.

Contoh: Sejak azali, Allah telah menentukan secara pasti (Tanjizi Qadim) bahwa Anda akan lahir di tahun tertentu dengan postur, rezeki, dan takdir tertentu. Penentuannya sudah selesai di azali, meski eksekusinya baru terjadi belakangan.

 Hal ini sejalan hadist Rasulullah 

عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللَّهِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمًا فَقَالَ « يَا غُلاَمُ إِنِّى أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ اِحْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ ». رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Dari Abu Abbas Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, suatu hari aku berada di belakang (membonceng) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Nak, aku hendak mengajarimu beberapa kalimat. Jagalah Allah, pasti Dia menjagamu. Jagalah Allah, niscaya niscaya Dia selalu bersamamu. Jika kamu memohon sesuatu, mohonlah kepada Allah. Dan jika meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya semua umat manusia bersatu untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu kecuali yang sudah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya semua umat manusia bersatu untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan mampu kecuali yang sudah Allah tetapkan untukmu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.” (HR. Timidzi. Dia berkata, hadits ini hasan shahih)

3.      Ta'alluq Tanjizi Hadits (تعلّق تنجيزي حادث):

Pengertian: Keterkaitan penentuan pada saat terwujudnya apa yang telah ditentukan di alam nyata. Sebagian besar ulama menganggap ini sekadar penampakan (dhuhur) dari penentuan azali tersebut.

 

o  Perbandingan Ringkas Ta'alluq Qudrah vs Iradah :

                           

Jenis Ta'alluq

Sifat Qudrah

(Mewujudkan/Meniadakan)

Sifat Iradah (Menentukan/Takhshish)

 

Shaluhi Qadim

(a)

 Ada

(Layak menciptakan sejak azali)

(a)

Ada

(Layak menentukan sejak azali)

 

Tanjizi Qadim

(-)

Tidak Ada

(guna menghindari timbulnya klaim alam  itu  qadim)

(a)

Ada

(Keputusan takdir sudah final sejak azali)

Tanjizi Hadits

(a)

Ada

(Proses penciptaan/peniadaaan nyata saat ini)

(a)

Ada

(Terwujudnya ketentuan tersebut di alam nyata)

 

 

 

 

Bagaimana hubungan antara Ta'alluq 'Ilm (Inkisyaf) dengan Ta'alluq Iradah dan Qudrah dalam konsep penulisan Lauhul Mahfuzh?

 

Dalam sistematika akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah (khususnya mazhab Asy'ariyah) sebagaimana dijelaskan dalam Umm ul-Barahin dan Jauharat ut-Tauhid, hubungan antara Ta'alluq 'Ilm, Iradah, dan Qudrah mengikuti hirarki logika (tartib 'aqli), meskipun dari sudut pandang Zat Allah ketiga sifat tersebut sama-sama Qadim (azali/tanpa permulaan).

 

Proses keterkaitan ketiga sifat ini menjadi dasar memahami konsep takdir dan penulisan di Lauhul Mahfuzh.

 

1. Urutan Logika Keterkaitan Sifat (Tartib 'Aqli)

Meskipun Allah tidak terikat waktu, akal membagi peran ketiga sifat ini dalam urutan sebab-akibat logis (bitaqdiri at-taqdim) :

              [1. Sifat 'Ilm] ----------------------> [2. Sifat Iradah] -----------------------> [3. Sifat Qudrah]

 (Ta'alluq Inkisyaf)                          (Ta'alluq Takhshish)                                  (Ta'alluq Ta'tsir)

     Menyingkap segalanya                      Menentukan pilihan                            Mewujudkan eksekusi

 

 

1. Sifat ‘Ilm (Ta'alluq Inkisyaf) — Tahap Penyingkapan Azali:

o    Sifat 'Ilm Allah bertaut secara Tanjizi Qadim membuka/menyingkap seluruh realitas yang Wajib, Mustahil, dan Jaiz tanpa batas.

o   Allah mengetahui sejak azali segala hal yang akan terjadi, sedang terjadi, tidak terjadi, serta bagaimana jika hal itu terjadi.

 

 

2. Sifat Iradah (Ta'alluq Takhshish) — Tahap Penentuan Takdir:

o   Berdasarkan apa yang dibuka oleh sifat 'Ilm-Nya, sifat Iradah bertaut secara Tanjizi Qadim untuk menentukan opsi spesifik dari hal-hal yang mumkin/jaiz.

o   Contoh: 'Ilm menyingkap bahwa si A mungkin lahir di tahun 2000 atau 2001; Iradah menentukan secara pasti bahwa si A lahir di tahun 2000.

3. Sifat Qudrah (Ta'alluq Ta'tsir/Ijad) — Tahap Eksekusi Realitas:

·         Sifat Qudrah bertaut secara Tanjizi Hadits untuk mewujudkan di dunia nyata apa yang telah ditentukan oleh Iradah sesuai dengan pengetahuannya 'Ilm pada waktu yang telah ditetapkan.

 

 2. Hubungannya dengan Penulisan di Lauhul Mahfuzh

Para ulama menafsirkan penulisan di Lauhul Mahfuzh sebagai bentuk manifestasi fisik dari takdir Allah di alam ciptaan, bukan tempat Allah "mencatat agar tidak lupa" (karena Allah Maha Mengetahui tanpa catatan).

 

Hubungan ketiga sifat dengan Lauhul Mahfuzh adalah sebagai berikut:

·         Lauhul Mahfuzh adalah Salinan Ketentuan Azali:

Apa yang dituliskan oleh Malaikat atas perintah Allah di Lauhul Mahfuzh adalah cerminan dari Ta'alluq Tanjizi Qadim sifat Iradah yang bersumber dari Ta'alluq Inkisyaf sifat 'Ilm.

·         Posisi Lauhul Mahfuzh dalam Hirarki Ciptaan:

Penciptaan Lauhul Mahfuzh dan pena (Al-Qalam) itu sendiri adalah hasil dari Ta'alluq Tanjizi Hadits dari sifat Qudrah.

·         Lauhul Mahfuzh vs 'Ilm Allah:

'Ilm Allah bersifat mutlak dan tidak berubah (Ta'alluq Tanjizi Qadim). Adapun catatan di Lauhul Mahfuzh memuat dua dimensi:

1. Ghayr Mu'allaq (Mutlak): Sesuai persis dengan 'Ilm Allah yang azali.

2.Mu'allaq (Bersyarat): Catatan yang tampak berubah bagi malaikat (misal: "Jika bersedekah umurnya 70 tahun, jika tidak 60 tahun"), padahal akhir ketentuannya sudah diketahui oleh 'Ilm Allah sejak azali.

 

 

Perbandingan Ringkas Hubungan Sifat :

Sifat

Jenis Ta'alluq Utama

Peran pada Lauhul Mahfuzh

Peran pada Kejadian Nyata

'Ilm

Inkisyaf (Tanjizi Qadim)

Menjadi dasar/sumber ilmiah dari apa yang ditulis di Lauhul Mahfuzh.

Mengetahui perwujudan kejadian secara tepat tanpa ada yang luput.

Iradah

Takhshish (Tanjizi Qadim)

Menetapkan detail spesifik yang dicatat di Lauhul Mahfuzh.

Memastikan kejadian terlaksana sesuai spesifikasi azali

Qudrah

Ta'tsir (Tanjizi Hadits)

Menciptakan Lauhul Mahfuzh dan Pena (Al-Qalam) sebagai objek ciptaan.

Mengubah status objek dari tiada menjadi ada di dunia nyata.

 

 

 

 

Konsep akidah menurut ulama Asy'ariyah dan Maturidiyah (sering disebut sebagai kelompok Ahlussunnah wal Jama'ah atau Asya'irah-Maturidiyah) dibangun di atas landasan rasional yang selaras dengan teks wahyu. Kedua mazhab ini menggunakan penalaran logis untuk memperkuat dan memvalidasi kebenaran nash (Al-Qur'an dan Hadis).

 

1. Hukum Akal dan Macamnya

 

Hukum akal (al-hukm al-'aqli) adalah penetapan suatu perkara pada perkara lain atau penafiannya tanpa menyandarkan pada pengalaman (‘adah) maupun ajaran agama (syara’). Menurut ulama Asy’ariyah dan Maturidiyah, keputusan akal terbagi menjadi 3 macam:

 

A.    Wajib 'Aqli (Wajib Secara Akal) :

Sesuatu yang secara akal tidak dapat diterima ketiadaannya (pasti ada).

Contoh: Adanya pencipta bagi alam semesta ini, atau keberadaan zat Allah yang Maha Esa.

B.     Mustahil 'Aqli (Mustahil Secara Akal) :

Sesuatu yang secara akal tidak dapat diterima keberadaannya (pasti tidak ada).

Contoh: Adanya sekutu bagi Allah, atau bertemunya dua hal yang bertentangan secara bersamaan dalam satu objek (seperti sesuatu yang sepenuhnya bergerak sekaligus sepenuhnya diam).

C.     Ja'iz / Mumkin 'Aqli (Boleh Secara Akal)

Sesuatu yang secara akal dapat diterima keberadaan maupun ketiadaannya.

Contoh: Allah menciptakan alam semesta, mengutus para rasul, atau memberikan rezeki kepada manusia.

 

2. Dalil Aqli dan Naqli

 

Dalam metodologi Asy'ariyah dan Maturidiyah, Dalil Aqli (penalaran rasional) digunakan untuk membuktikan keberadaan dan sifat-sifat Tuhan kepada mereka yang belum meyakini wahyu, sedangkan Dalil Naql  (teks Al-Qur'an dan Hadis) menjadi penguat sekaligus penetap detail ajaran yang tidak dapat diraih oleh akal semata.

 

 Dalil Keberadaan dan Keesaan Allah (Al-Ilahiyyah)

 

Dalil 'Aqli (Dalil Huduts al-Ajsam):

1. Alam semesta senantiasa berubah (mutaGHayyir).

2. Setiap yang berubah adalah sesuatu yang baru/hadis (hadits).

3. Setiap yang baru pasti membutuhkan Sang Pencipta (Muhdits).

4. Pencipta tersebut haruslah Wajib al-Wujud (Allah) yang tidak didahului oleh ketiadaan.

 

 

Dalil Naqli:

 "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Memelihara segala sesuatu." (QS. Az-Zumar: 62)

"Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah binasa." (QS. Al-Anbiya: 22) — Dalil ini sejalan dengan konsep 'Aqli: Dalil At-Tamanu' (Saling Menolak).

 

3. Tiga Pilar Pembahasan Akidah (Ilahiyyah, Nubuwwat, dan Sam'iyyat)

 

Pemikiran ilmu kalam Asy'ariyah dan Maturidiyah membagi sistematika ajaran tauhid ke dalam 3 pembahasan utama:

 

A. Al-Ilahiyyah (Ketuhanan)

Membahas segala hal yang berkaitan dengan Zat Allah SWT, meliputi sifat-sifat yang wajib, mustahil, dan ja'iz bagi-Nya.

 

Sifat Wajib bagi Allah: Asy'ariyah merumuskan 20 Sifat Wajib (terbagi menjadi Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyah). Maturidiyah memiliki pandangan serupa, namun memasukkan sifat Takwin (Menciptakan/Mewujudkan) sebagai sifat Ma'ani tersendiri.

Sifat Mustahil: Lawan dari 20 sifat wajib (seperti ‘Adam [tiada], Huduts [baru], Syarik[sekutu]).

Sifat Ja'iz: Perbuatan menciptakan (fi'lu kulli mumkini) atau meninggalkan perbuatan tersebut.

 

B. An-Nubuwwat (Kenabian)

     Membahas hal-hal yang berkaitan dengan para Nabi dan Rasul sebagai utusan Allah.

    Sifat Wajib Rasul:Siddiq (jujur), Amanah (terpercaya), Tabligh (menyampaikan), dan Fathanah (cerdas).

Sifat Mustahil Rasul: Kebalikan dari sifat wajib (Kizib, Khianat, Kitman, Baladah).

Sifat Ja'iz Rasul: Mengalami sifat-sifat kemanusiaan (al-a'rad al-basyariyah) yang tidak mengurangi martabat kenabian mereka, seperti makan, minum, sakit ringan, dan menikah.

      Mukjizat: Berfungsi sebagai bukti rasional kebenaran pengakuan kenabian (tasdiq).

 

 C. As-Sam'iyyat / Al-Ghaibiyyat (Kegaiban)

Membahas perkara-perkara yang tidak dapat dijangkau oleh akal murni secara independen, melainkan hanya dapat diketahui melalui jalur pendengaran (wahyu/naql). Akal bertugas menerima dan mengamininya selama perkara tersebut berstatus Mumkin 'Aqli (secara akal memungkinkan terjadi).

 

Ruang Lingkup  Pembahasan:

1.      Alam Barzakh (fitnah kubur, azab dan nikmat kubur).

2.      Tanda-tanda Hari Kiamat.

3.      Hari Kebangkitan (Al-Ba'th), Hari berhimpun (Al-Mahsyar), dan Perhitungan Amalan (Al-Hisab).

4.      Titian   (Ash-Shirath), Timbangan (Al-Mizan), Surga, dan Neraka.

5.      Ru’yatullah (melihat Allah di akhirat bagi kaum mukminin).

 

 

Perbedaan Tipis Asy'ariyah dan Maturidiyah perihal Hukum Akal

 

1. Janji dan Ancaman (Al-Wa'd wa Al-Wa'id): Maturidiyah memandang bahwa janji pahala dan ancaman dosa adalah ketetapan yang tidak mungkin berubah secara hakiki karena berkaitan dengan kebenaran janji Allah, sedangkan Asy'ariyah memandang pengampunan dosa besar tanpa pertobatan adalah hal yang ja'iz (boleh) bagi rahmat Allah.

2. Kebaikan dan Keburukan (At-Tahsin wa At-Taqbih): Maturidiyah berpendapat bahwa akal manusia secara mandiri mampu menangkap kebaikan atau keburukan sebagian perkara (meski kewajiban syariat tetap ditetapkah oleh naql). Asy'ariyah berpendapat bahwa kebaikan dan keburukan murni ditentukan oleh syariat (syara').

 

 

 

 

Sifat wajib Allah yang harus diketahui secara *tafshili* (terperinci) oleh seorang *mukallaf* berjumlah 20 sifat. Ulama Asy'ariyah mengelompokkan 20 sifat tersebut ke dalam **4 kategori utama** berdasarkan hakikat teologisnya.

 

Konsep Kasb (usaha manusia) dalam hubungannya dengan takdir menurut kitab Tuhfatul Murid

Dalam kitab Tuhfatul Murid, Imam Ibrahim al-Bajuri membedah konsep Kasb (كسب / usaha manusia) sebagai jalan tengah (mawaqif wawasat) khas mazhab Asy’ariyah untuk menjembatani dua kutub pemikiran ekstrem: Mu’tazilah (yang menganggap manusia menciptakan perbuatannya sendiri secara mandiri) dan Jabariyah(yang menganggap manusia terpaksa tanpa daya, seperti bulu di tiang awan).

1. Definisi Kasb menurut Tuhfatul Murid

    Secara bahasa, kasb berarti mencari atau menyelaraskan. Secara terminologi teologi Asy’ariyah sebagaimana dijelaskan Imam al-Bajuri:

 

Kasb adalah: Keterkaitan daya/kemampuan manusia yang baru (al-qudrah al-haditsah) dengan perbuatan yang diciptakan oleh Allah SWT.

 

Artinya, ketika seseorang hendak melakukan suatu perbuatan (misalnya menggerakkan tangan untuk menulis):

 

1. Pencipta Perbuatan (Al-Khaliq): Murni Allah SWT. Hanya Allah yang memiliki Qudrah Qadimah (daya Maha Kuasa) yang dapat mewujudkan sesuatu dari tiada menjadi ada.

2. Pelaku Usaha (Al-Kasib): Adalah Manusia. Manusia dibekali oleh Allah Qudrah Haditsah (daya kemampuan yang diciptakan baru pada diri manusia) yang menyertai saat perbuatan itu terjadi.

 

Perbuatan tersebut terjadi bersamaan (muqaranah) dengan daya manusia, bukan disebabkan oleh (bi tsababi) daya manusia itu sendiri secara independen.

2. Hubungan Kasb dengan Takdir (Qadha & Qadar)

Imam al-Bajuri menegaskan bahwa konsep Kasb tidak bertentangan dengan keimanan pada takdir Allah, melainkan menjadi landasan keadilan Allah atas pahala dan siksa.

 

 

·         Penetapan Takdir (Qadha & Qadar):

      Allah telah mengetahui ('Ilmu Allah) dan menghendaki (Iradah Allah) sejak azali segala sesuatu yang akan dilakukan manusia melalui ikhtiarnya. Takdir Allah meliputi penciptaan daya manusia sekaligus perbuatan yang dihasilkannya.

·         Pertanggungjawaban Hukum (Al-Kallaf & Al-Jaza'):

Manusia tidak diberi balasan (pahala/siksa) atas tindakan menciptakan perbuatan (khalq)—karena itu hak prerogatif Allah—melainkan atas pilihan niat dan ikhtiar usahanya (kasb).

Akal manusia merasakan perbedaan yang jelas (fariq dharuri) antara gerak tangan yang disengaja saat mengambil benda (terdapat kasb) dengan gerak tangan yang gemetar akibat penyakit tremor (idhthirar / tanpa kasb).

 

3. Matriks Perbandingan Konsep Perbuatan Manusia

 

Untuk memperjelas kedudukan Kasb dalam Tuhfatul Murid, Imam al-Bajuri memetakan pandangan mazhab teologi sebagai berikut:

Mazhab Teologi

Pandangan Perbuatan Manusia

Kedudukan Takdir & Keadilan

Jabariyah

Manusia tidak memiliki daya sama sekali. Perbuatan murni paksaan dari Allah

Menafikan ikhtiar manusia; menjadikan janji pahala dan azab tampak tidak rasional.

Mu'tazilah

Manusia menciptakan perbuatannya sendiri secara independen melalui daya yang diberikan Allah.

Menafikan kesempurnaan takdir Allah bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta (Khaliq).

Asy'ariyah (Tuhfatul Murid)

Allah menciptakan perbuatan, manusia melakukan kasb (ikhtiar) atas pilihan kehendaknya.

Menjaga ketauhidan (hanya Allah Sang Pencipta) sekaligus menegakkan keadilan (manusia dihukum/diberi pahala atas pilihannya).

 

 

·      Kesimpulan Ringkas

 

Menurut kitab Tuhfatul Murid, ikhtiar/usaha (kasb) manusia adalah bentuk keselarasan niat dan daya manusia yang diciptakan Allah pada saat perbuatan itu terjadi. Manusia tidak menciptakan perbuatannya, tetapi manusia bertanggung jawab penuh secara moral dan syariat atas arah pilihan ikhtiarnya yang telah masuk dalam takdir dan ilmu Allah sejak azali.

 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PEMBAGIAN 20 SIFAT WAJIB ALLAH (NAFSIYAH, SALBIYAH, MA'ANI, DAN MA'NAWIYAH)MENURUT ASY'ARIYAHBESERTA KONEKSITAS SIFAT MAANINYA

  PEMBAGIAN 20 SIFAT WAJIB ALLAH   (NAFSIYAH, SALBIYAH, MA'ANI, DAN MA'NAWIYAH ) MENURUT ASY'ARIYAH BESERTA K ONEKSITAS  SIFAT M...